Posted in Uncategorized

Benih Hijau untuk Eva

Seperti apakah bayangan kita akan Bumi di masa depan? Ultra modern dengan mobil terbang dan sepatu yang dapat menyesuaikan ukuran kaki pemakainya secara otomatis seperti dalam film Back to the Future? Manusia menjadi makhluk super intelijen sehingga kita dapat hidup harmonis dengan alam seperti pada buku Ecotopia karya Ernest Callenbach? Ataukah hamparan lahan tandus dengan tumpukan sampah tanpa kehidupan seperti pada film Wall-E?

Bumi adalah tempat yang sangat luas dan sepi bagi Wall-E. Robot kecil ini adalah robot terakhir yang beroperasi di bumi. Ia diprogram untuk membersihkan sampah besi untuk diubah menjadi kubus-kubis besi dan ditumpuk untuk kemudahan pembuangan sampah. Wall-E bukanlah robot yang tanpa intelijensia. Ia dapat mengapresiasi keindahan dan menciptakan karya seni. Dengan kubus-kubus yang dia proses, ia menciptakan gedung-gedung dan monumen terkenal seperti yang ia lihat di dalam film yang ia temukan saat mengumpulkan sampah.

Setiap hari, ia berangkat dan mengumpulkan sampah. Sesekali ia mengambil barang-barang yang menurutnya menarik atau aneh. Tak kurang berpuluh-puluh bola lampu ia kumpulkan. Ia juga menyukai piringan hitam dan kaset yang dapat mengeluarkan musik. Suatu hari, sesuatu yang berbeda terjadi. Robot modern yang berwarna putih muncul tiba-tiba. ternyata ia memiliki misi untuk mencari tanda-tanda kehidupan biologis di bumi. Singkat cerita, Wall-E jatuh cinta.

Film Wall-E ini berakhir bahagia dengan  munculnya kesadaran para manusia untuk memelihara kelestarian bumi. Wall-E yang ternyata memiliki benih hijau yang dapat tumbuh di tanah akhirnya berjuang bersama Eva untuk menunjukkan kapten kapal bahwa bumi sudah dapat ditinggali. Kapal ini adalah kapal penyelamat dimana umat manusia terpaksa mengungsi dari bumi karena bumi sudah tidak layak ditinggali. Sedih bukan?

Enggan rasanya untuk memikirkan adanya kemungkinan bumi dapat seperti film Wall-E. namun melihat kelakuan umat manusia saat ini, bukan tidak mungkin suatu saat hal ini menjadi kenyataan. Oleh sebab itu, sudah waktunya kita mulai mengamalkan tiga kata suci ini: reduce, reuse, recycle.

Reduce, berarti kita mengurangi penggunaan bahan- bahan yang merusak lingkungan. Seperti plastik, bahan bakar fosil, dll. beberapa pihak malah menyarankan penghentian pembuatan bahan-bahan tersebut.

Reuse berarti memakai kembali barang-barang yang sudah dipakai dan masih dapat dipakai. Seperti mengubah kantong plastik menjadi dompet, menggunakan bohlam lampu sebagai pot bunga mini, dan lains sebagainya.

Recycle berarti mendaru ulang sampah, baik organi maupun non organik. Seperti mendaur ulang sampah rumah tangga yang organik menjadi pupuk atau mendaur ulang sampah kertas menjadi kertas baru.

Bagi sebagian orang langkah-langkah ini mungkin mudah. Sebagian yang lain merasa hal-hal tersebut sangat rumit. apapun pendapatnya, satu hal yang pasti, langkah-langkah ini krusial bagi bumi. Kita mau tak mau harus mulai melakukannya. tentu kita tidak mau bumi menjadi9 seperti dalam film Wall-E, dan, walaupun kisah perjuangan Wall-E mempersembahkan benih hijau bagi Eva sangat indah, namun moral dari cerita ini menunjukkan betapa parahnya kehidupan sehari-hari manusia yang tidak ramah lingkungan  dapat mempengaruhi bumi. Mari kita berubah sama-sama menjadi lebih baik.

Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si Nergi

 

Advertisements

Author:

Little universe in the big universe having a journey with other universes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s