Posted in Uncategorized

Pengembangan gas bumi di Indonesia sebagai solusi energi dunia

Saat ini gas bumi sedang diusung sebagai sumber energi  Kondisi industri migas saat ini tengah lesu karena turunnya harga minyak dunia. Industri minyak bumi, dengan sejarah kenaikan dan kelesuannya, mengalami penurunan sejak tahun 1990-an, bahkan lebih awal. Pemasukan dari perusahaan-perusahaan yang beberapa tahun lalu mendapat keuntungan menjadi turun, sehingga mereka harus menonaktifkan dua pertiga dari rig mereka dan memotong tajam investasi untuk eksplorasi dan produksi. Perusahaan-perusahaan menjadi bangkrut dan diperkirakan 250.000 pekerja minyak (kira-kira setengah di Amerika Serikat) kehilangan pekerjaannya. Sebabnya adalah penurunan harga barel minyak yang menurun tajam. Harga minyak turun drastis karena produksi jatuh disebabkan penurunan investasi eksplorasi. Di sisi permintaan, perekonomian Eropa dan negara-negara berkembang sedang lemah dan kendaraan menjadi semakin hemat energi. Sehingga permintaan untuk bahan bakar sedikit tertahan.

Di Indonesiapun hal yang sama kurang lebih terjadi. Pada tahun 1970 Indonesia merupakan negara yang kaya minyak bumi. Saat itu konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri sekitar 122.000 barel per hari (bph), sedangkan produksi minyak mencapai 853.000 bph. Tahun itu menjadi tahun keemasan, Indonesia surplus sekitar 730.000 bph. Pada periode 1975-1995 produksi minyak Indonesia masih di atas 1 juta barel, bahkan pada periode 1980-1991 berada di puncak keemasannya, produksi minyak Indonesia hampir mendekati 2 juta bph. Namun seiring pertumbuhan ekonomi, konsumsi BBM terus meningkat. Produksi minyak semakin berkurang dan tidak mencukupi untuk menutupi konsumsi dalam negeri. Maka sejak tahun 2004 Indonesia tidak bisa mengelak menjadi negara importir minyak.

Pada masa pemerintahan SBY mulai melakukan terobosan dengan menggulirkan program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG). Berlanjut pada pemerintahan Jokowi, konversi BBM ke BBG terus dikembangkan. Terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi masyarakat di perkotaan, sebagian besar tidak lagi menggunakan minyak tanah dan beralih pada BBG yang dikemas dalam tabung. Demikian pula dilakukan pada sektor industri dan kendaraan bermotor. Konversi BBM ke BBG dilakukan karena cadangan gas bumi Indonesia untuk saat ini sampai 50 tahun ke depan cadangan gas diperkirakan cukup berlimpah, bahkan belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri. Sehingga Indonesia masih bisa ekspor gas bumi di atas 40% atau berbanding terbalik dengan minyak bumi untuk BBM, kita harus impor sekitar 40%. Hal ini memberikan jalan bagi energi alternatif lain, salah satunya adalah gas bumi, yang sekaligus lebih ramah lingkungan.

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) adalah salah satu badan perusahaan negara yang turut mengembangkan dan memaksimalkan penggunaan energi baik gas bumi ini. PGN ini telah membangun dan mengoperasikan pipa gas bumi lebih dari 7.100 kilometer. Jumlah ini setara 76 persen pipa gas bumi seluruh Indonesia. PGN juga sudah melakukan berbagai penguatan energi gas sejak era 1970-an di mana harga gas terpaksa dijual dengan murah, karena pada periode itu harga BBM masih murah karena disubsidi pemerintah bahkan sebagian dari impor. PGN melakukan inovasi dengan sedikit mengubah pola bisnisnya yang sebelumnya menyalurkan gas buatan menjadi menyalurkan gas bumi melalui pipa. Ini dilakukan pada periode 1974. PGN kemudian melakukan pioneering dengan melakukan pembangunan infrastruktur pipa gas bumi di berbagai daerah. Salah satu proyek besar adalah proyek pipa gas transmisi South Sumatera West Java (SSWJ) dengan panjang lebih dari 1.000 km.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tengah berusaha memperluas jaringan pipa gas bumi di Indonesia. Bahkan, mulai tahun ini, PGN telah berhasil menguasai lebih dari setengah jaringan pipa gas bumi di seluruh Indonesia. Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso mengatakan, PGN telah membangun pipa gas sepanjang 825 kilometer (km) selama setahun terakhir. Pipa gas tersebut terdiri dari pipa transmisi open access dan pipa distribusi gas bumi. Jika pada akhir 2014 panjangnya sudah 6.161 km maka total panjang pipa gas bumi yang dimiliki PGN saat ini mencapai 6.989 km. Penambahan pipa gas tersebut membuat PGN mampu memiliki dan mengoperasikan 76 persen jaringan pipa gas bumi nasional. Apalagi, PGN berhasil menyelesaikan pembangunan pipa transmisi gas bumi open access di Kalimantan – Jawa (Kalija) I sepanjang lebih dari 200 km. Pipa gas Kalija I ini menghubungkan sumber gas Lapangan Kepodang di laut utara Jawa Tengah ke pembangkit listrik PLN Tambak Lorok.

Selain itu, PGN berencana menambah jaringan gas bumi sepanjang lebih 600 km di 10 kota pada tahun ini. Yaitu DKI Jakarta, Bekasi, Cirebon, Pasuruan, Surabaya, Sidoarjo, Semarang, Medan, Batam dan daerah lainnya. Pipa gas tersebut bertujuan antara lain mendukung penyaluran gas bumi untuk rumahtangga. Demi memperbanyak penggunaan gas bumi di rumah tangga, PGN juga memiliki “Program Sayang Ibu”. Gerakan ini dideklarasikan 2014 lalu dengan menyalurkan gas bumi ke dapur-dapur rumah tangga.

 

Beberapa perusahaan yang merupakan anak perusahaan milik PGN seperti PT. Saka Energi Indonesia juga turut unjuk gigi dalam memaksimalkan pemanfaatan gas bumi di Indonesia. Dengan keadaan industri migas yang sedang lesu, PT. Saka Energi justru semakin ekspansif menemukan dan mengelola sumber-sumber gas bumi. Saat ini mereka bahkan mampu memproduksi 30.000 barel setara minyak per hari (BOPD) dimana 50% di anataranya adalah gas bumi. PT. Saka juga turut membangun bagian yang belum banyak tersentuh yaitu Indonesia bagian Timur. Selama ini pembangunan potensi gas bumi masih banyak di Jawa dan Sumatera, namun PT. Saka juga turut mengembangkan infrasturktur hilir di Indonesia Timur dengan pembangunan pipa gas bumi di sana.

Sampai Januari 2016, penyaluran gas PGN sudah menjangkau lebih dari 107.690 rumah tangga di berbagai daerah. Tidak berhenti di situ, PGN akan terus menambah jaringan pipa gas bumi untuk rumah tangga. Hingga 2019 mendatang, perusahaan pelat merah ini akan menambah 110 ribu sambungan gas rumah tangga.

Adapun dalam tiga tahun ke depan, PGN juga akan menambah jaringan pipa gas baik transmisi maupun distribusinya sepanjang lebih dari 1.650 kilometer (km). Rinciannya adalah proyek pipa transmisi open access (akses bersama) Duri-Dumai-Medan, pipa transmisi open access Muara Bekasi-Semarang, pipa Distribusi Batam (Nagoya) WNTS-Pemping dan pipa distribusi gas bumi di wilayah yang sudah beroperasi dan daerah baru lainnya. Dengan tambahan pipa gas tersebut membuat jumlah pipa gas bumi PGN pada 2019 nanti menjadi lebih dari  8.660 km. Jumlah ini akan meningkatkan kemampuan penyaluran gas PGN mencapai 1.902 juta kaki kubik (mmscfd).

 

Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Sumber: nytimes.comtambang.co.idgeoenergi.co.idtribunnews.comkatadata.co.id

Advertisements

Author:

Little universe in the big universe having a journey with other universes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s