Posted in Uncategorized

Gas bumi: energi baik untuk dunia yang melimpah di Indonesia

Gas bumi sering juga disebut sebagai gas bumi atau gas rawa, adalah bahan bakar fosil berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana CH4). Sumber daya alam ini merupakan sumber penting untuk produksi baik bahan bakar maupun amonia (amonia merupakan komponen vital untuk produksi pupuk). Mirip dengan minyak mentah dan batubara, gas bumi adalah bahan bakar fosil yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan dan mikroorganisme, tersimpan dalam di bawah tanah selama jutaan tahun. Namun tidak seperti bahan-bahan bakar fosil lainnya, gas bumi adalah salah satu sumber energi yang paling bersih (memiliki intensitas karbon yang rendah), teraman dan paling berguna dari semua sumber energi.

Gas bumi adalah bahan bakar yang memainkan peran signifikan di kebanyakan sektor dalam perekonomian dunia (industri, pembangkit listrik, komersil dan di tempat tinggal). Terlebih lagi, karena pada faktanya ada banyak cadangan gas bumi di dunia – yang dapat dikembangkan dan diproduksi tanpa membutuhkan investasi besar – gas bumi kemungkinan akan menjadi semakin penting di masa mendatang karena kebanyakan negara ingin mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber energi yang mahal dan tidak ramah lingkungan seperti minyak.

Selain digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan, gas bumi juga dapat digunakan sebagai sumber pembangkit listrik yang jauh lebih bersih dari pada minyak dan batu bara, sumber bahan baku untuk berbagai industri, seperti industri pengolahan plastik, metanol, pupuk, dan baja. Dalam skala rumah tangga, gas juga digunakan sebagai sumber energi untuk memasak dan memanaskan atau mendinginkan ruangan dan air. Bahkan gas karbon dioksida dapat digunakan untuk merekayasa cuaca.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan lingkungan yang bersih dan sehat, manusia terus berupaya mengembangkan berbagai sumber energi untuk menggantikan penggunaan energi dari minyak bumi dan batu bara yang tidak ramah lingkungan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan produksi dan penggunaan gas bumi atau gas bumi karena memiliki potensi yang besar pemanfaatan gas sebagai salah satu sumber energi yang ramah lingkungan.

Saat ini gas bumi digunakan sebagai bahan bakar kendaraan dalam bentuk compressed natural gas (CNG) dan liquefied natural gas (LNG), terutama untuk kendaraan umum di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta. Yang masih menjadi masalah adalah stasiun pengisian bahan bakar gas yang masih terbatas, sehingga kendaraan umum “hybrid” masih lebih banyak menggunakan bahan bakar minyak untuk beroperasi. Padahal jika sebagian besar kendaraan umum menggunakan bahan bakar gas, tingkat polusi udara Jakarta bisa ditekan.

Dalam Visi 25/25, Indonesia menargetkan penggunaan gas sebesar 23 persen dari total penggunaan energi nasional pada 2025. Bahkan dalam peraturan presiden nomor 5 tahun 2006, ditargetkan sebesar 30 persen. Kelihatannya target Visi 25/25 bukan lah hal yang muluk, karena saat ini saja penggunaan gas sudah mencapai sekitar 22 persen.

Menurut beberapa kalangan, Indonesia mempunyai potensi shale gas sebesar 1.000 – 2.000 tcf (trillion cubic feet). Ini menjadikan Indonesia menjadi negara dengan potensi shale gas terbesar di dunia. Jika kemudian bisa dikelola dengan baik, termasuk jika bisa meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan, Indonesia bisa keluar dari krisis energi dan sekaligus mengurangi impor energi.

Indonesia memiki cadangan gas bumi yang besar. Saat ini, negara ini memiliki cadangan gas terbesar ketiga di wilayah Asia Pasifik (setelah Australia dan Republik Rakyat Tiongkok), berkontribusi untuk 1,5% dari total cadangan gas dunia. Potensi gas bumi yang dimiliki Indonesia berdasarkan status tahun 2008 mencapai 170 TSCF dan produksi per tahun mencapai 2,87 TSCF, dengan komposisi tersebut Indonesia memiliki reserve to production (R/P) mencapai 59 tahun. Kebanyakan pusat-pusat produksi gas Indonesia berlokasi di lepas pantai. Yang paling besar di antaranya adalah: Arun, Aceh (Sumatra), Bontang (Kalimantan Timur), Tangguh (Papua), Pulau Natuna.

Indonesia memproduksi sekitar dua kali lipat dari gas bumi yang dikonsumsinya. Kendati begitu, ini tidak berarti bahwa produksi gas domestik memenuhi permintaan gas domestik. Pemerintah dalam rangka mendukung perencanaan pasokan gas untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri melakukan kajian dan menetapkan Neraca Gas Bumi Indonesia 2010-2025 dan menetapkan Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional serta memprioritaskan pemanfaatan melalui Kebijakan Penetapan Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi dalam Negeri.

Terkait dengan pemanfaatan gas bumi untuk domestik, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No.03 Tahun 2010 tentang Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi Untuk Kebutuhan Dalam Negeri. Menteri ESDM menetapkan alokasi gas bumi untuk ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri secara optimal dengan mempertimbangkan ketersediaan infrstruktur dan keekonomian pengembangan lapangan gas bumi. Selain itu dalam Permen ESDM No. 03 Tahun 2010 Pasal 4 dijelaskan bahwa dalam rangka mendukung pemenuhan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri, Kontraktor wajib ikut memenuhi kebutuhan Gas Bumi dalam negeri dengan menyerahkan sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dari hasil produksi Gas Bumi bagian Kontraktor. Sekiranya pemenuhan kebutuhan domestik belum terpenuhi dengan kuota 25% maka Menteri ESDM menetapkan kebijakan alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi dari cadangan Gas Bumi yang dapat diproduksikan dari setiap lapangan Gas Bumi pada suatu Wilayah Kerja.

Gas bumi juga dapat menjadi solusi bagi sumber energi listrik karena sampai saat ini hampir 80 juta penduduk Indonesia belum memiliki akses listrik seperti yang ditunjukkan oleh persentase kelistrikan Indonesia yang relatif rendah pada 84,1% di 2014.Pemadaman listrik sering terjadi di seluruh negeri (terutama di luar kota-kota besar Pulau Jawa), dan karenanya membebani industri-industri negara ini.

Pemerintah Indonesia bertujuan untuk membatasi ekspor gas negara ini dalam rangka mengamankan suplai domestik sambil mendorong penggunaan gas bumi sebagai sumber bahan bakar untuk konsumsi industri dan personal. Sebagian besar hasil produksi gas diekspor karena produksi gas negara ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan asing yang hanya bersedia untuk berinvestasi bila diizinkan mengekspor komoditi ini. Saat ini, perusahaan-perusahaan asing, seperti CNOOC Limited, Total E&P Indonesia, Conoco Philips, BP Tangguh, dan Exxon Mobil Oil Indonesia, berkontribusi untuk sekitar 87% dari produksi gas bumi Indonesia. Sisa 13% diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina. Sekitar setengah dari total hasil produksi gas dijual secara domestik.

Berbalik dengan produksi minyak nasional, produksi gas bumi di Indonesia tetap stabil, mencatat rekor tinggi di 2010 karena awal produksi Ladang Tangguh (berlokasi di Papua) di tahun yang sama (dimanajemen oleh BP Indonesia) yang merupakan sebuah ladang penting dalam industri gas negara ini. Setelah 2010, produksi gas telah menurun karena masalah-masalah suplai.

Selama ini, produksi gas bumi Indonesia selalu ditujukan untuk pasar ekspor. Kendati begitu, penurunan produksi minyak domestik dikombinasikan dengan peningkatan harga minyak internasional, membuat Pemerintah memutuskan untuk melakukan usaha-usaha untuk memperbesar penggunaan gas domestik dari pertengahan 2000an sampai saat ini. Di beberapa tahun terakhir penggunaan gas telah meningkat dengan subur dan menurunkan ekspor namun fasilitas-fasilitas infrastruktur yang terbatas dalam jaringan transmisi dan distribusi Indonesia memperumit perkembangan lebih lanjut dari konsumsi domestik. Infrastruktur layak yang terbatas ikut disebabkan karena kurangnya investasi namun juga karena kondisi geografis negara ini. Distribusi dengan tanker lebih mudah dibandingkan jaringan pipa karena cadangan-cadangan gas bumi yang penting berlokasi di lepas pantai, jauh dari pusat-pusat permintaan gas yang besar.

Setelah Qatar, Malaysia dan Australia, Indonesia saat ini adalah eksportir gas bumi cair (liquefied natural gas/LNG) terbesar keempat di dunia. Hal ini tidak berarti – seperti yang disebutkan di atas – bahwa permintaan domestik dapat dipenuhi oleh produksi domestik. Akibatnya, Indonesia perlu mengimpor LNG dari luar negeri supaya tidak menganggu komitmen ekspor. Diperkirakan bahwa pada tahun 2017 suplai-suplai tambahan dari ladang-ladang gas baru Indonesia akan dapat menggantikan impor.

Indonesia, sebelumnya eksportir LNG terbesar, mengalami penurunan pangsa pasar LNG global, sebagian karena reorientasi kebijakan Pemerintah Indoensia di pertengahan 2000an yang menargetkan lebih banyak suplai gas untuk pasar domestik dalam konteks meningkatkan penggunaan gas sebagai sebuah sumber energi (dengan mengurangi ketergantungan terhadap minyak). Namun, penurunan ini juga terjadi karena kurangnya investasi jangka panjang baik dalam eksplorasi maupun pengembangan ladang-ladang gas negara ini.

Perekonomian Indonesia yang berekspansi dikombinasikan dengan niat Pemerintah untuk menurunkan ketergantungan pada minyak sebagai sumber suplai energi dalam industri-industri, pembangkit listrik dan transportasi akan menyebabkan permintaan domestik untuk gas untuk meningkat di masa mendatang. Sejumlah kontrak ekspor jangka panjang yang ditandatangani di awal dan pertengahan 2000-an dihargai di bawah harga pasar, berarti Indonesia kehilangan pendapatan berjumlah signifikan. Daripada menghubungkan tingkat kontrak dengan harga pasar gas yang berfluktuasi, sebuah harga tetap disetujui yang kemudian segera menjadi tidak sesuai lagi karena harga pasar (yang naik). Pemerintah Indonesia telah berusaha merenegosiasi kontrak-kontrak jangka panjang tersebut dalam rangka mendapatkan lebih banyak keuntungan finansial. Kendati begitu, dari perspektif para pelaku bisnis jelas niat merenegosiasi kontrak bukanlah pilihan yang terbaik (karena menyebabkan ketidakpastian mengenai komitmen Pemerintah Indonesia untuk menghormati kontrak yang telah ditandatangani). Tujuan-tujuan ekspor LNG utama Indoneisa adalah Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Perusahaan Gas Negara (PGN)  memiliki posisi istimewa sebagai salah satu badan usaha negara yang berkomitmen dalam mengelola pemanfaatan gas bumi di Indonesia. Sampai saat ini PGN yang telah berkomitmen dari awal sebagai pionir untuk memanfaatkan gas bumi. Komitmen ini telah berbuah infrastruktur gas bumi di Indonesia yang semakin luas dan eksplorasi sumber – sumber gas bumi yang semakin ekspansif di Indonesia. Kedepannya tidak mustahil sampai level global, mengingat melimpahnya potensi gas bumi di Indonesia.

 

Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Sumber: indonesia-investments.comesdm.go.idpii.or.id

Advertisements

Author:

Little universe in the big universe having a journey with other universes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s