Posted in Uncategorized

Mandiri Art: ketika karya seni Istana Kepresidenan kembali ke rakyat

Menyambut perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, Istana Kepresidenan Republik Indonesia menggelar Mandiri Art. Pameran ini menampilkan sejumlah koleksi lukisan dan foto-foto kepresidenan. Pameran yang berjudul “17/71: Goresan Juang Kemerdekaan” tersebut dibuka dari tanggal 1 hingga 30 Agustus 2016 di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Ekonomi Kreatif, dan Mandiri Art tersebut merupakan pameran yang pertama kalinya diselenggarakan sejak Indonesia merdeka.

Ini merupakan pertama kali masyarakat umum dapat melihat koleksi lukisan Istana dari dekat. Sosialisasi koleksi seni rupa Istana Kepresidenan kepada publik merupakan gagasan yang diinisiasi langsung oleh Presiden Jokowi. Gagasan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Istana Kepresidenan dalam merawat koleksi-koleksi terbaik, sekaligus mendukung konsep Istana Untuk Rakyat dengan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati koleksi karya seni terbaik melalui pameran yang terbuka untuk umum. Para pengunjung pameran dilarang untuk mengambil gambar lukisan yang dipamerkan. Alasannya, blitz atau lampu kamera bisa mengurangi kualitas warna lukisan. Untuk mengetahui lebih jauh soal lukisan-lukisan yang dipamerkan, pengunjung akan disediakan katalog.

Dari sekitar 15.000 item dan lebih dari 3000 lukisan yang telah melalui proses kuratorial pada tahun 2009-2010 yang ada di Istana Kepresidenan, dipilih 28 lukisan fenomenal dari 21 pelukis ternama untuk pameran Mandiri Art. Lukisan-lukisan tersebut didatangkan khusus dari Istana Negara, Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas dan Istana Yogyakarta. Selain memamerkan koleksi lukisan, acara tersebut juga akan memamerkan 100 foto-foto kepresidenan dan juga sejumlah buku mengenai koleksi lukisan Istana Kepresidenan. Koleksi tersebut banyak menyimpan karya legendaris yang menjadi bagian dari tonggak seni budaya dan sejarah Republik Indonesia.

Sejumlah lukisan fenomenal yang dikuratori oleh Mikke Susanto dan Rizki A. Zaelani tersebut antara lain adalah karya-karya maestro senirupa Indonesia seperti Raden Saleh, Affandi (yang dijuluki sebagai pelopor aliran ekspresionisme di Indonesia), S. Sudjojono, Basoeki Abdullah (maestro realisme di Indonesia), Gambiranom Suhardi, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Ida Bagus Made Nadera dan Dullah (pelukis Istana pada era Presiden Sukarno). Ada pula karya pelukis asing seperti Rudolf Bonnet, Lee Man Fong, dan Diego Rivera. Masyarakat juga dapat menikmati lukisan karya Presiden Sukarno sendiri yang berjudul Rini yang dilukisnya pada 1958.

Salah satu lukisan ikonik yang dapat dinikmati dari 28 lukisan yang dipamerkan di Mandiri Art adalah lukisan hasil reproduksi karya Henk Ngantung berjudul Memanah yang dibuat pada 1943. Lukisan itu direproduksi oleh Haris Purnomo. Walaupun reproduksi, lukisan masih bisa dinikmati dengan kualitas sedikit lebih rendah dari aslinya. Lukisan tersebut direproduksi karena karya asli Henk yang terbuat dari triplek sudah rusak dimakan usia. Henk Ngantung, pria asal Manado, merupakan Gubernur DKI Jakarta pada periode 1964-165.

 

Sumber: satuharapan.comksp.go.idsetneg.go.idtempo.copresidenri.go.id

Advertisements

Author:

Little universe in the big universe having a journey with other universes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s