Posted in Uncategorized

Gas bumi PGN: Solusi energi untuk kawasan industri Jawa Timur

Perusahaan Gas Negara Tbk senantiasa berkomitmen untuk mendukung perkembangan industri dan perekonomian di Indonesia dengan pengembangan terus menerus jaringan gas bumi PGN sebagai energi baik. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian PGN karena posisinya sebagai kawasan industri penting adalah Jawa Timur.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar mengungkapkan, Jatim masih menjadi wilayah favorit yang diincar oleh investor untuk mendirikan industri, apalagi Jatim sudah menjadi pusat distribusi bahan baku maupun barang jadi untuk wilayah Indonesia timur. Namun, investasi kebanyakan hanya sektor tertentu seperti industri sektor makanan dan minuman serta consumer goods.

Jawa Timur sebagai salah satu kawasan industri yang penting di Indonesia kini semakin dituntut untuk berkembang. Untuk potensi industri makanan dan minuman berbasis buah mangga misalnya, investasi akan diarahkan di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo. Potensi industri garam berada di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep Madura, sedangkan industri berbasis rumput laut ada di Trenggalek, dan disusul Pacitan, Malang, dan Banyuwangi. Selain itu, untuk industri berbahan dasar susu akan disiapkan di Kabupaten Malang, Pasuruan, dan Mojokerto. Industri plastik di Pasuruan dan Sidoarjo. Sedangkan iron steel diarahkan ke lokasi alternatif seperti Lumajang, Jember, dan Banyuwangi, dan untuk tambang marmer ada di Bojonegoro dan Tulungagung. Selain itu, potensi industri komponen otomotif dan tekstil bakal diarahkan di Pasuruan, Mojokerto, dan Jombang. Serta pengolahan ikan di Trenggalek, Malang, Pacitan dan Banyuwangi. Diperkirakan, ketersediaan lahan kawasan industri exsisting yang siap digunakan yakni di Pasuruan sekitar 400 ha, Lamongan 2.000 ha, Gresik 4.000 ha, Banyuwangi 400 ha, Nganjuk 1.000 ha.

Sayangnya, pengembangan kawasan industri selama ini terjebak di daerah-daerah Ring I seperti Surabaya Industrial Estate (SIER), PIER Pasuruan, Kawasan Industri Gresik (KIG), Ngoro Industrial Park (NIP) Mojokerto, Maspion Gresik, dan Lamongan Industrial S (LIS). Padahal potensi pada Ring I tersebut sangat besar karena memiliki infrastruktur pendukung yang memadai mulai dari jalan hingga ketersediaan pelabuhan Terminal Teluk Lamong dan Pelabuhan Perak. Namun wilayah tersebut dianggap tidak menguntungkan bagi investor karena biaya operasionalnya semakin tinggi. Salah satu kendala terbesarnya adalah, infrastruktur di wilayah alternatif tersebut belum siap. Misalnya ketersediaan air dan listrik. Terkadang investor yang ingin investasi menjadi mundur setelah melihat lokasi karena listrik untuk industrinya belum siap.

Namun, kawasan industri ini tetap dibanjiri oleh sebagian investor. Pasalnya, pemodal wajib berada di dalam kawasan industri sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.24 tahun 2009 tentang Kawasan Industri. Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf menuturkan, pengembangan kawasan industri akan terus diarahkan ke lokasi-lokasi alternatif yang belum memiliki kawasan industri tetapi memiliki gerakan industrialisasi yang tinggi seperti Jombang, Probolinggo, Ngawi, Madiun, dan Bangkalan Madura. Di Ngawi dan Jombang, misalnya, sangat potensial untuk pengembangan kawasan industri apalagi sebentar lagi akan ada jalan tol yang nyambung ke pelabuhan di Surabaya.

 

Badan Penanaman Modal (BPM) Provinsi Jawa Timur mencatat, tingkat pertumbuhan penjualan kawasan industri di Jatim mencapai 5%—8% per tahun, sementara beberapa kawasan industri utama di Jatim pun sudah habis terjual. Berdasarkan studi kinerja investasi di Jatim oleh BPM Jatim, tanah yang diperlukan untuk investasi asing langsung dan domestik sejak 2001—2016 diperkirakan akan mencapai 4.359 hektare (ha), adapun yang tersisa hanya 800 ha.

Untuk itu, perlu ada pengembangan secara terus menerus, terutama dari segi infrastruktur. Pembangunan infrastruktur ini akan memungkinkan berdirinya kawasan industri yang efektif. Apalagi jika dibarengi dengan kesadaran akan pelestarian lingkungan hidup. Seperti salah satunya adalah penggunaan gas bumi sebagai energi baik.

Saat ini di Jawa Timur, PGN telah dan sedang menyelesaikan beberapa proyek pipa gas bumi sebagai energi baik di Jawa Timur. Salah satunya pada ruas Kalisogo-Waru sepanjang 30 km. Selain pipa Kejayan-Purwosari di Pasuruan sepanjang 15 kilometer, perseroan juga telah merampungkan pembangunan jaringan pipa Jetis-Ploso di Mojokerto-Jombang sepanjang 27 kilometer. Dengan berbagai pembangunan perluasan jaringan gas bumi PGN ini, diharapkan kawasan industri Jawa Timur ini semakin ramah lingkungan, hemat dan efisien.

 

 

Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Sumber: industri.bisnis.comindustri.bisnis.com

Advertisements

Author:

Little universe in the big universe having a journey with other universes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s