Posted in Uncategorized

Wanita dan dapur

Memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April kemarin, saya tergerak untuk membuat artikel mengenai para pejuang wanita yang berkiprah di dunia UKM dengan memanfaatkan energi ramah lingkungan gas bumi PGN. Mengapa saya membuat artikel dengan tema gas bumi? Karena gas bumi bersinggungan langsung dengan kegiatan dapur, dan peran wanita secara tradisional sangat dekat dengan dapur.

Bagi wanita Indonesia modern, peran di dapur bukan lagi menjadi posisi yang dianggap hebat.  Hal ini tentu saja sangat erat kaitannya dengan tema-tema pemasungan hak-hak wanita yang banyak didengungkan dewasa ini. Walaupun saya kurang setuju dengan pemarginalan suatu peran dalam masyarakat, di lain pihak, dapat dilihat bahwa wanita mulai diperhitungkan perannya dalam kancah publik. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki akses untuk pemberdayaan masyarakat modern? Jawabannya adalah sulit.

Perempuan selalu dikonotasikan sebagai pekerja domestik yang selalu dikaitkan dengan “sumur, dapur, kasur” dan dinilai tidak dapat berkontribusi secara aktif di luar rumah sehingga perannya tidak lebih dari sekadar aktivitas dalam rumah. Bagi sebagian besar wanita, terutama di Indonesia, aktivitas domestik sudah dilekatkan pada mereka sejak lahir. Pergeseran nilai-nilai ini memerlukan usaha terus-menerus dalam mengubah mental dan stigma dari masyarakat. Hal-hal tersebut memerlukan akses pada informasi, pendidikan dan perubahan mental yang memerlukan waktu lama dan usaha yang besar. Sayangnya, tidak semua, bahkan sebagian besar wanita di Indonesia tidak memiliki akses pendidikan dan informasi yang memadai untuk mencapai pemberdayaan.

Hal yang sama terjadi pada Khairul Anam dan istrinya dari Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Desanya memiliki tradisi migrasi dimana hampir 30% dari jumlah penduduk desa tersebut memutuskan untuk mencari lapangan pekerjaan sebagai Tenaga Kerja Indonedia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) dengan berbagai macam profesi. Khairul Anam salah seorang pemuda kelahiran 31 Desember 1989 tidak terlepas dari tradisi desanya tersebut. Baik tradisi migrasi maupun tradisi komunitas setempat yang menempatkan perempuan hanya bekerja untuk sektor domestik. Sehingga dari kondisi ini, dia harus memenuhi kebutuhan praktis rumah tangganya sehari-hari. Kerja-kerja sebagai TKI yang beresiko diambilnya, dengan meninggalkan anaknya yang masih kecil. Padahal menurut Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) yang bekerjasama dengan OXFAM, laki-laki di Desa Sukarara tidak harus menjadi TKI dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan membuat UKM bersama para istri mereka, yang dapat terwujud dengan pembagian peran domestik dan publik yang seimbang.

Dapat dilihat dari contoh di atas bahwa pembagian peran berdasarkan gender bukan saja merugikan wanita, namun juga laki-laki. Namun kurangnya akses pengetahuan di banyak masyarakat di Indonesia menghambat kemajuan ini. Lalu bagaimana solusinya? Menurut saya kita harus mulai dari ranah yang dirasa nyaman. Dimulai dari dapur.

Penggunaan gas bumi bukan hanya untuk rumah tangga dan industri. Saat ini, gas bumi juga digunakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam menunjang bisnisnya. Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia Agus Pambagyo mengakui, pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri kecil sangat bermanfaat. Pasalnya, harga jual gas bumi lebih murah ketimbang bahan bakar lainnya. Dengan faktor itu, tentu para pelaku UMKM bisa lebih bersaing dalam menghasilkan produknya.

Dengan UKM yang berawal dari dapur yang didalangi oleh wanita-wanita seperti Mbah Ramiah dari Kampung Lontong, Surabaya, Ia bukan saja membantu perekonomian keluarganya dan masyarakat sekitarnya, namun juga kemajuan peran wanita secara umum. Karena kesuksesan usaha lontongnya, seluruh keluarganya, dari suami, menantu dan anak-anak semua ikut membantu membuat lontong. Hal yang serupa terjadi pada banyak laki-laki di Kampung Lontong. Hal ini mengaburkan peran berdasarkan gender yang seringkali merugikan wanita. Wanita dapat meraih kesuksesan, dan bukan hal yang memalukan bagi laki-laki untuk berkutat di dapur.

Demikian halnya dengan Elfa Susanti, seorang wanita hebat dari Kampung Kue, Surabaya, yang dapat menyekolahkan ketiga anaknya dari penghasilan usaha kuenya. Ia tidak lagi bergantung dari penghasilan orang lain. Dari dapur, Elfa mampu naik tingkat.

 

Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi.

Sumber: suarasurabaya.net, republika.co.id, jurnalperempuan.org, lakilakibaru.or.id

Advertisements

Author:

Little universe in the big universe having a journey with other universes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s