Posted in Uncategorized

Pejuang UKM wanita bersenjata Gas Bumi PGN

Artikel kali ini masih berkisar mengenai Hari Kartini dengan wanita-wanita hebat yang memanfaatkan Gas Bumi PGN yang saya sebutkan dalam artikel sebelumnya. Saya ingin menggali lebih dalam kisah wanita-wanita hebat yang telah memperjuangkan perbaikan keadaan ekonominya dan orang-orang disekitarnya. Bukan dengan senjata, namun dengan keuletan dan manfaat Gas Bumi.

Pejuang UKM pertama adalah wanita bernama Mbah Ramiah yang mengaku telah menjadi penjual lontong sejak tahun 1970-an di Banyu Urip Lor, Surabaya. Pada awalnya, Ramiah hanya membuatkan lontong untuk para tetangganya yang berjualan tahu tek. Usaha lontong Ramiah kemudian semakin meningkat sehingga Ramiah mengajarkan pembuatan lontong ke para tetangganya. Kini, di Banyu Urip telah ada lebih dari 100 keluarga yang mengikuti jejak Ramiah memproduksi lontong sehingga kampung tersebut dinamakan kampung lontong. Agar industri rumahannya dapat terus berjalan, selain enak, harga lontongnya juga harus bersaing. Karena pembuatannya relatif mudah, maka ia harus memutar otak untuk membuatnya dengan harga semurah mungkin agar pembeli lebih memilih untuk membeli daripada membuat sendiri. Sejak menggunakan gas bumi PGN sejak tahun 2012, beliau mengakui bahwa biaya produksi-nya jadi lebih murah. Usaha lontongnya-pun jadi semakin berkembang. Kini biaya penggunaan gas bumi-nya berkisar antara 400 sampai 600 ribu rupiah per bulan. Bandingkan dengan penggunaan Elpiji yang lebih mahal, yaitu sekitar sekali masak untuk satu tungku membutuhkan 1,5 tabung. Beliau juga pernah mengalami kebakaran karena pemasangan gas Elpiji yang kurang tepat. Bukan hanya Ramiah yang meraih keuntungan dengan penghematan biaya ini, namun juga para penjual lontong yang mengikuti jejak Ramiah. Dengan begitu, Ramiah bukan saja telah memperbaiki keadaan ekonomi dirinya, namun juga perekonomian masyarakat di kampung lontong. Bahkan kini tak ada lagi istilah pengangguran di Banyu Urip Lor.

Pejuang UKM ke-dua adalah Elfa Susanti pemilik usaha kue Die Va Cake & Cookies dari Kampung Kue Rungkut Lor, Surabaya. Elfa sudah menggunakan gas bumi PGN sejak 4 tahun yang lalu. Ia mengakui telah merasakan hematnya dibandingkan dengan gas Elpiji. Sebelum memakai gas bumi, Elfa memproduksi kue basah seperti pie, soes, lemper, ketan srikaya hingga putri mandi dengan biaya bahan bakar gas elpiji sebesar Rp 700.000,00 hingga Rp 900.000,00 per bulan. Sejak beralih ke gas bumi PGN, Elfa hanya perlu mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 250.000 per bulan. Kini, kue buatannya bahkan sudah dilirik beberapa hotel berbintang tiga di Surabaya. Setiap hari tidak kurang 300-500 kue buatannya laku terjual. Berkat penghematan dengan gas bumi PGN, Elfa dapat menyekolahkan ketiga anaknya yakni, M. Yudha yang baru lulus SMA, M. Fazaldy yang kini duduk dibangku kelas 2 SMP, dan Chelsea Shaumi yang berusia 4 tahun. Sejauh ini sudah 30 UMKM di Kampung Kue yang menggunakan bahan bakar gas bumi dalam memasak kue-kue kering.

Masih banyak lagi pejuang wanita yang telah diuntungkan dengan perbaikan ekonomi dengan gas bumi PGN. Apalagi melihat dari perkembangan jaringan PGN di Indonesia. Pelanggan PGN secara nasional terus bertambah.

Untuk sektor rumah tangga PGN melayani lebih dari 107.690 pelanggan. Selain ke rumah tangga, PGN saat ini juga menyalurkan gas ke lebih dari 1.857 pelanggan komersil (rumah makan, mal, hotel, restoran, rumah sakit) dan Usaha Kecil Menengah seperti warteg, jamu, hingga usaha genteng. PGN juga menyalurkan gas ke 1.529 industri dan pembangkit listrik. Kedepannya, PGN menargetkan untuk menambah pelanggan rumah tangga sebanyak 110.000 rumah dengan biaya sendiri dalam kurun waktu 2016-2019. Sehingga pada nantinya pelanggan rumah tangga PGN menjadi lebih dari 310.000 pelanggan.

Tahun lalu secara nasional PGN menyalurkan gas bumi sebanyak 1.586 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Ini setera dengan penggunaan 286.000 barel minyak per hari. Dengan penyaluran gas sebanyak 1.586 MMSCFD ini, potensi penghematan dari pemanfaatan gas yang dikelola PGN bagi nasional di 2015 sebesar Rp 88,03 triliun.

PGN juga terus berupaya memperluas jaringan gas bumi di berbagai daerah. Mulai 2016 hingga 2019 PGN menargetkan tambahan jaringan pipa gas sepanjang 1.685 km, SPBG sebanyak 60 unit, serta infrastruktur lainnya seperti mini LNG System untuk Indonesia bagian tengah dan timur. Sedangkan dari sisi infrastruktur, panjang pipa gas bumi PGN termasuk pipa transmisi open access dan distribusi total sekitar 6.971 km. Panjang pipa ini merepresentasikan 76% dari panjang pipa gas hilir yang ada di Indonesia. Jaringan gas bumi ke lebih dari 107.690 rumah tangga itu, dibangun PGN dengan biaya sendiri tanpa mengandalkan uang negara atau APBN.

Menurut saya pengembangan gas bumi PGN ini merupakan fakta yang menggembirakan. Tidak sabar rasanya saya mendengar cerita-cerita sukses pejuang UKM lainnya seperti Mbah Ramiah dan Elfa Susanti. Kini sudah saatnya wanita ikut maju.

 

Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi.

Sumber: dream.co.idrepublika.co.id, finance.detik.com, suarasurabaya.net

Advertisements

Author:

Little universe in the big universe having a journey with other universes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s