Posted in Uncategorized

Menguak energi bersih di kedalaman bumi

Salah satu perhatian lingkungan hidup terbesar saat ini adalah energi terbarukan yang ramah lingkungan demi kelestarian bumi. Pada Hari Bumi tanggal 22 April 2016 kemarin, seluruh dunia sekali lagi diingatkan akan permasalahan tidak cukupnya penyediaan energi ramah lingkungan di dunia. Indonesia sebagai salah satu negara yang turut merayakan Hari Bumi sudah sepantasnya mengalihkan pandangannya pada sumber daya alamnya yang melimpah demi pemenuhan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Sebagai negara berkembang dengan populasi terbesar ke-empat di dunia, Indonesia dihadapkan dengan berbagai permasalahan pemenuhan energi.  Rasio kelistrikan di Indonesia baru mencapai 75,83 persen dari keseluruhan pemenuhan listrik yang ideal, dengan perningkatan permintaan listrik sebanyak 10% setiap tahunnya. Hal ini mengimplikasikan bahwa masih ada sekitar 50 juta penduduk Indonesia yang tidak memiliki akses listrik. Belum lagi permasalahan listrik di daerah-daerah terpencil. Pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di daerah-daerah perdesaan, daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan dianggap tidak ekonomis sehingga sepi dari investor. Padahal listrik amatlah penting artinya bagi hajat hidup manusia.

Di sisi lain, pemerintah harus mulai membatasi pembangunan pembangkit listrik dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Menghadapi kondisi ini, pengembangan tenaga listrik energi panas bumi merupakan solusi terbaik bagi persoalan energi nasional.

Energi panas bumi (atau energi geothermal) adalah sumber energi yang relatif ramah lingkungan karena berasal dari panas dalam bumi. Air yang dipompa ke dalam bumi oleh manusia atau sebab-sebab alami (hujan) dikumpulkan ke permukaan bumi dalam bentuk uap, yang bisa digunakan untuk menggerakkan turbin-turbin untuk memproduksi listrik. Biaya eksplorasi dan juga biaya modal pembangkit listrik geotermal lebih tinggi dibandingkan pembangkit-pembangkit listrik lain yang menggunakan bahan bakar fosil. Namun, setelah mulai beroperasi, biaaya produksinya rendah dibandingkan dengan pembangkit-pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Di samping menghasilkan listrik, energi geotermal juga bisa digunakan untuk pompa pemanas, alat mandi, pemanas ruangan, rumah kaca untuk tanaman, dan proses-proses industri.

Lokasi Indonesia yang berada di ”ring of fire” dunia menyebabkan tersedianya panas bumi yang berlimpah yaitu sekitar 40% cadangan energi geothermal dunia. Indonesia adalah negara paling banyak ke-tiga dalam menghasilkan listrik menggunakan energi panas bumi setelah Amerika dan Filipina. Namun, sebagian besar dari potensi ini belum digunakan. Saat ini, Indonesia hanya menggunakan 4-5% dari kapasitas geothermalnya. Walaupun penggunaan geothermal sudah dilakukan di seluruh Indonesia, namun pemanfaatannya masih kecil-kecil. Padahal, di dalam Kebijakan Energi Nasional, penggunaaan Energi Baru Terbarukan ditargetkan sebesar 25% pada tahun 2025.

Melihat dari potensi dan kebutuhan ini, tidak mengherankan jika Kebijakan Energi Nasional saat ini menuju fase peralihan dari sumber daya fosil ke sumber daya terbarukan. Dengan harapan terwujudnya kemandirian energi, yaitu dengan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil (Minyak bumi, gas bumi, dan batubara) yang cadangannya terus menurun.

Hambatan utama dari pengembangan tenaga panas bumi adalah adalah hukum di Indonesia yang mempersulit investasi bagi energi ramah lingkungan ini. Undang-Undang No. 27/2003 mendefinisikan aktifitas energi panas bumi sebagai aktifitas pertambangan. Sedangkan aktifitas pertambangan tidak dapat dilaksanakan di wilayah hutan lindung dan area konservasi menurut Undang-Undang No. 41/1999. Padahal, sekitar 80% dari cadangan geothermal Indonesia terletak di hutan lindung dan area konservasi. Oleh karena itu mustahil untuk memanfaatkan potensi ini. Walaupun faktanya aktivitas-aktivitas tambang geothermal hanya memberikan dampak kecil pada lingkungan (dibandingkan aktivitas-aktivitas pertambangan yang lain).

Pada Agustus 2014, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia mengesahkan Undang-Undang Geothermal No. 21/2014 (menggantikan Undang-Undang No. 27/2003) yang memisahkan geotermal dari aktivitas-aktivitas pertambangan yang lain dan karena itu membuka jalan untuk eksplorasi geothermal di wilayah hutan lindung dan area konservasi. Pengesahan Undang-Undang ini adalah gebrakan yang penting. Namun, sampai saat ini, Undang-Undang baru ini masih perlu diatur pelaksanaannya dengan peraturan-peraturan kementerian yang lain.

Halangan ke-dua adalah tarif listrik yang tidak kompetitif. Melalui subsidi pemerintah, tarif listrik menjadi murah. Selain itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memiliki monopoli distribusi listrik di Indonesia sehingga energi listrik dari produsen-produsen independen harus dijual kepada PLN. Ditambah lagi, pada Juni 2014, Pemerintah Indonesia mengumumkan akan membuat harga pembelian (dibayar oleh PLN) menjadi lebih menarik melalui kebijakan tarif feed-in yang baru.

Permasalahan lainnya adalah masih banyaknya pemikiran masyarakat awam bahwa panas bumi itu berbahaya padahal justru sebaliknya energi panas bumi merupakan energi bersih dan tidak mencemari lingkungan. Masih perlu dilakukan penerangan bahwa energi panas bumi bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan, juga akan pentingnya energi panas bumi bagi pembangunan negara dan kelestarian lingkungan.

Terakhir, masih banyak permasalahan pembangunan infrastruktur tenaga panas bumi yang menghambat eksplorasi geothermal di Indonesia. Baik karena keadaan infrastruktur yang buruk di wilayah-wilayah terpencil, perlawanan masyarakat lokal pada proyek-proyek ini, pertimbangan ekonomi yang tidak menarik investor, maupun birokrasi yang buruk (prosedur perizinan yang panjang dan mahal yang melibatkan pemerintah pusat provinsi, dan kabupaten).

Salah satu contohnya adalah keterlambatan pembangunan pembangkit listrik panas bumi (PLTP) Muara Leboh, Sumatera Barat. Pengembangan PLTP ini telah dimulai sejak kegiatan survey di tahun 2008 dan telah merampungkan pengeboran 8 sumur. Namun, saat ini para pengembangnya tengah melakukan negosiasi ulang terkait permasalahan harga jual listrik. PT Supreme Energy Muara Laboh mengajukan renegosiasi harga jual kepada PLN karena cadangan terbukti hanya mencapai 80MW dari perkiraan awal sebesar 220MW. Padahal total investasi yang dikeluarkan sudah mencapai US$ 130 juta. Jika hal ini terus berlarut-larut, hal ini dapat menghambat investor yang ingin berpartisipasi, dan listrik dari energi panas bumi tidak dapat segera dinikmati masyarakat.

Namun bukan berarti tidak ada titik terang dalam pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia. Saat ini Kementerian ESDM sedang mengusulkan revisi Undang-Undang Panas Bumi dan juga revisi Peraturan Pemerintah termasuk kebijakan harga baru sebagai salah satu upaya agar panas bumi menarik dan semakin dapat berkembang lebih cepat lagi.

Pemerintah Indonesia juga telah melakukan berbagai upaya guna mendorong pemanfaatan panas bumi, seperti pemberian tarif yang menarik, insentif fiskal dan non fiskal, jaminan kelayakan usaha kepada PT PLN, serta telah meluncurkan program Fast Track 10.000 MW Tahap II dengan target pengembangan PLTP sebesar 4.925 MW.

Upaya pemerintah lainnya adalah melalui Geothermal Fund Facility (GFF) yang menyediakan dukungan untuk memitigasi resiko-resiko dan menyediakan informasi mengenai biaya pengembangan awal geothermal yang relatif tinggi. Pemerintah juga telah menyiapkan enam wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi yang terbuka untuk tender.

Salah satu kisah sukses pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal di Indonesia dapat dilihat di Sarulla Sumatera Utara (Kabupaten Tapanuli Utara). Diperlukan waktu lebih dari dua dekade untuk memulai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal Sarulla didesain untuk menjadi pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di dunia dengan total kapasitas bersih 330 Mega Watt yang terjamin untuk periode 30 tahun (cukup untuk menyediakan listrik pada 330.000 rumah). Setelah tertunda karena birokrasi yang buruk dan kurangnya sumber pembiayaan, proses pembangunan proyek ini (yang membutuhkan investasi 1,6 milyar dollar AS) akhirnya mulai dilaksanakan pada Juni 2014. Pembangkit listrik ini direncanakan untuk mulai beroperasi pada 2016 dan akan beroperasi penuh di 2018.

Pembangkit Listrik Sarulla akan menggantikan Pembangkit Listrik Panas Bumi Wayang Windu (milik Star Energy) sebagai pembangkit listrik tenaga geotermal terbesar di Indonesia. Hal ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan peran sumber energi terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik negara, untuk menggunakan potensi tenaga geothermal yang luar biasa besar, dan untuk memenuhi permintaan energi yang terus meningkat dari negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Saat ini, sistem kelistrikan Jawa dan Bali dari total kapasitas terpasang 28.000 Megawatt (MW), seribu megawatt diantaranya dioperasikan oleh pembangkit listrik dari panas bumi. Sedangkan secara keseluruhan, pada tahun 2011 konsumsi BBM untuk pembangkit khususnya di pulau Jawa mengalami penurunan 15 persen sementara pada tahun 2012 mengalami penurunan sekitar 5,5 persen.Tahun ini target penggunaan BBM di Jawa dan Bali 2-3 persen. Hal ini merupakan salah satu titik terang dalam pemanfaatan energi panas bumi dimana permintaan energi yang paling tinggi terdapat di Jawa dan Bali. Diharapkan  pemanfaatan energi panas bumi yang ramah lingkungan dan berlimpah di tanah air dapat secepatnya terealisasi dengan maksimal.

Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si-Nergi

Sumber: indonesia-investments.com, esdm.go.id, ebtke.esdm.go.id

Advertisements

Author:

Little universe in the big universe having a journey with other universes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s